


Syamsir Alam, goal getter tim SAD Indonesia dalam Quinta Division Uruguay 2008/2009, ternyata adalah anak “Rang Balingka” Kabupaten Agam. Nun, jalan menuju kelok 44 yang terkenal panorama alamnya di Sumatra Barat, sambil menyaksikan kemilau air danau Maninjau.
Pemain kelahiran 6 Juli 1992 ini, dalam kompetisi Quinta Division U-17 Liga Uruguay yang telah dijalaninya, acap kali menciptakan gol untuk kesebelasannya. Produktifitas Syamsir memang tercipta berkat penampilan briliannya dalam setiap pertandingan.
Sementara pada putaran pertama, dari 23 pertandingan yang dilaksanakan, Syamsir Alam juga telah mengoleksi 10 gol selama kompetisi putaran pertama tahun 2008 lalu, disusul Shalan Shodiq dengan 5 gol, hingga total gol yang telah diraihnya selama kompetisi Quinta Division berjumlah 14 gol, sementara untuk putaran pertama ini anak sulung dari Edinas Sikumbang,SH yang pengacara kondang di Jakarta dan berkantor di Menara Sudirman ini, baru mencetak satu gol waktu menjebol tim Racing, Awal April 2009 lalu.
Sehingga tidak mengherankan jika dari hasil analisa pelatih Cesar Payovich, performa Syamsir selalu mendapatkan nilai lebih. Dalam dua laga awal bahkan Cesar memberikan nilai 9 untuk aksi pemain bernomor punggung 10 ini.
“Dari segi fisik dan teknik, Syamsir Alam saat ini memang yang terdepan diantara pemain SAD yang lain. Kemampuan dribel dan pergerakan tanpa bolanya sangat baik. Saya harap ia terus tekun berlatih dan mampu mengambil pelajaran dari ketatnya persaingan di Liga Uruguay. Yang penting, jangan pernah merasa sombong dan puas diri,” komentar Cesar Payovich.
Dalam skema permainan Cesar Payovich, Syamsir Alam yang di akhir putaran pertama sering dimainkan sebagai gelandang serang yang bermain di belakang dua striker dalam pola 4-3-1-2, sejak dua pertandingan terakhir lebih dimaksimalkan sebagai striker bersama Alan Martha.
“Dengan kapasitas teknis dan visi bermainnya yang bagus, Syamsir Alam mampu memainkan peran yang bagus saat sebagai striker maupun gelandang. Buktinya, dalam beberapa pertandingan dia juga mampu mencetak gol saat bermain sebagai gelandang serang, “ tutur Cesar.
Tekanan pertandingan dalam Liga Uruguay 2008 dikatakan oleh Cesar tak berbeda jauh dengan di Eropa. Seorang pemain tidak hanya cukup mengandalkan kualitas teknis saja. Tapi diperlukan juga kondisi fisik yang prima serta visi bermain yang baik untuk selalu melepaskan diri dari tekanan lawan.
“Hal inilah yang harus terus dipelajari oleh Syamsir. Dalam beberapa pertandingan terakhir, ia selalu mendapatkan pengawalan ketat dari pemain belakang lawan. Ke depannya ia akan semakin mendapat penjagaan ketat karena sudah mulai disegani,” kata Roberto Regis Milano, agen yang mengurusi SAD Indonesia selama di Uruguay.
Dan kepiawaiannya dalam mengolah “si kulit bundar” di lapangan permainan, tidak hanya dikagumi para pelatih maupun pemain bola di Uruguay. Kalangan gadis-gadis cantik penggemar sepakbola di Amerika Latin juga ikut-ikutan mengagumi Alam. Salah satu diantaranya adalah Denise, warga Argentina penggila sepakbola yang ikut tergila-gila dengan Alam.
“Ah, Denise itu hanya teman biasa aja om. Kebetulan aja dia sering curhat sama Alam, sehingga terlihat kami sering bersama pada waktu libur latihan.” Kilah Alam ketika ditanya soal hubungan intimnya dengan warga Argentina tersebut. Bagi yang ingin kenalan dengan Alam, bisa membaca komentarnya dengan mengklik pas photo alam di halaman utama.
Memang, meski usia Syamsir Alam sebaya dengan 24 rekan lainnya di Uruguay, ia lebih memiliki jam terbang internasional yang tinggi. Saat masih berusia 12 tahun, Syamsir sudah memperkuat Timnas U-14 di Piala Asia U-14 2004. Ia juga sempat mencicipi mulusnya rumput di Perancis dalam kejuaraan Danone Cup. Yang terakhir, dalam usia 15 tahun, Syamsir malah berhasil masuk timnas U-19 asuhan pelatih Bambang Nurdiansyah di kualifikasi Piala Asia U-19 tahun lalu. Selain itu, Syamsir sudah pernah berlatih di Belanda bersama timnas U-23 dan tim-tim yunior Divisi Utama Belanda.
Dalam sebuah situs, Syamsir Alam mengaku memiliki kenangan yg mendalam selama berlatih dan bermain di Uruguay.
Kenangan bagusnya, saya tak bisa melupakan saat mencetak gol ke gawang Fenix. Terjadinya secara ajaib dan Allah berikan itu tepat di hari ulang tahun saya [6 Juli]. Lebih spesial lagi, itu adalah gol tunggal dan Indonesia sukses mengalahkan Fenix, yang merupakan salah satu tim besar Uruguay.
Tapi kenangan buruknya, di Uruguay pula saya mendapat kartu merah pertama sejak menjadi pemain. Usai dikartu merah, pelatih Cesar menghampiri saya sambil menghardik, "Jika bermain Kasar begitu lebih baik pulang saja ke Indonesia!"
Saya menjawabnya, "karena kalau tidak saya halangi, pemain itu akan lolos ke pertahanan tim." Tapi, Cesar mengatakan saya tidak perlu melakukan hal itu karena biarkan itu menjadi tugas masing-masing pemain sudah punya tanggung jawabnya. Itulah hebatnya Cesar bagi tim, beliau sudah tak ubahnya seperti seorang ayah bagi kami.
Saya akan berupaya semampu mungkin untuk bisa bermain di salah satu liga Eropa dan tidak bermain di Liga Indonesia. Bukannya sombong, tapi kita bicara realistis, pasti mimpi semua pemain sepakbola untuk bisa bermain di Eropa.
Insya Allah, dengan semangat dan kedua kaki, saya bisa mewujudkan mimpi kita semua yang sangat haus melihat salah satu anak bangsa bermain di Eropa.

1 komentar:
aaaaaaaaaaaaaaaaa sumpah demi apapun suka banget sama alam :)
Posting Komentar